ASI atau Air Susu Ibu memiliki kandungan luar biasa. Salah satu kandungan penting dalam ASI adalah kolostrum. Zat ini berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit. Dalam kolostrum terdapat protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah yang berguna bagi bayi di hari-hari pertamanya.
Selain kolostrum, ASI juga mengandung taurin, decosahexanoic acid (DHA), dan arachidonic acid(AA). Ketiga kandungan tersebut sangat diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak bayi.
Memang, beberapa susu formula sudah memasukkan komposisi ini. Cuma, menurut ahli gizi Universitas Indonesia Susianto, kandungan gizi dalam susu formula seringkali tidak stabil karena adanya perubahan suhu. Maklum, biasanya, kandungan DHA dan AA dalam susu formula diambil dari ikan. “Kalau kandungan gizi di ASI pasti stabil,” katanya.
Kelebihan utama ASI lainnya yang tak dimiliki oleh susu lainnya adalah zat imunologik. ASI mengandung zat antiinfeksi yang bersih dan bebas kontaminasi. Zat imun itu ada pada immunoglobulin, sekretori, dan laktoferin. Zat immunoglobulin yang terdapat dalam kolostrum berfungsi mencegah terjangkitnya penyakit pada bayi. Lalu, zat sekretori yang dapat melumpuhkan bakteri patogen e-coli serta berbagai virus pada saluran pencemaan. Sementara laktoferin, sejenis protein, merupakan komponen zat kekebalan yang berfungsi mengikat zat besi di saluran pencemaan.
Meski kandungan gizi dalam ASI-begitu banyak, zat-zat tadi bakal mudah terserap tubuh bayi. Kandungan protein whey memudahkan penyerapan lebih besar dibandingkan susu sapi atau susu formula. Subhanallah.
ASI memang tak tergantikan dengan cairan apapun di dunia ini termasuk susu formula atau susu sapi. Karena kandungan ASI telah diciptakan sesuai dengan kebutuhan bayi, usia dan keadaan bayi.
Begitu pentingnya ASI, beberapa hasil riset menunjukkan bahwa berbagai dampak buruk dapat terjadi pada bayi bila tidak mendapat Air Susu Ibu (ASI). Berdasarkan penelitian (Lucas, 1992 dalam Masora; 2003) diketahui bahwa IQ kelompok bayi prematur yang diberi ASI adalah 8.5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok bayi yang diberikan susu formula. Selain itu kurangnya atau tidak diberikannya ASI pada bayi dapat memberikan dampak lainya, baik dampak fisiologis, psikologis sampai kondisi terburuk pada bayi yaitu kematian pada bayi (Achadi, 1999; Bobak, 2000).
Riset terbaru WHO pada tahun 2005 menyebutkan bahwa 42 persen penyebab kematian balita di dunia adalah akibat penyakit, yang terbesar adalah pneumonia (20 persen), selebihnya (58 persen) terkait dengan malnutrisi yang seringkali terkait dengan asupan ASI (Siswono, 2006). Dan berdasarkan hasil penelitian Ridwan Amirudin 2007, anak yang tidak diberi ASI ekslusif lebih cepat terserang penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi, dan diabetes setelah dewasa,.kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan obesitas (Amiruddin, 2007).
Bayi yang diberi susu selain ASI, mempunyai 17 kali lebih besar mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali lebih besar kemungkinan terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA) salah satu factor adalah karena buruknya pemberian ASI (Dep.Kes,RI, 2005) hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 – 2003 hanya 8 % bayi Indonesia yang mendapat ASI ekslusif 6 bulan dan 4% yang mendapat ASI dalam satu jam kelahirannya (Amori, 2007).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi usia 0-6 bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
Masalah Asi ekslusif pun telah sampai pada RPP ttg ASI ekslusif. Artinya sudah ada kesepahaman mengenai pentingnya ASI bagi bayi. Dalam Islam, masalah ini sudah tercatat dalam Al-qur’an 14 abad silam.
“Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf….”
(QS. Al Baqarah : 233)
Artinya masalah ini sangat penting dalam Islam, bahkan diriwayatkan kebijakan Umar bin Khathab yang memotivasi para ibu dengan memberikan upah bagi Ibu yang menyusui bayi mereka.
Namun kini di Indonesia pemberian ASI eksklusif masih rendah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, bayi yang mendapatkan ASI ekslusif di Indonesia hanya 15,3 persen. Budiharja, Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan mengatakan, masalah utama rendahnya pemberian ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya dan kurangnya pengetahuan ibu hamil, keluarga dan masyarakat.
Berkurangnya jumlah ibu yang menyusui bayinya dimulai di kota-kota, terutama pada warga yang berpenghasilan cukup yang kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota, penelitian para ahli mengapa jumlah ibu yang menyusui bayinya cenderung menurun, semakin banyak ibu bekerja,adanya anggapan menyusui adalah lambang keterbelakangan budaya dan alasan estetika (M, Sjahnien, 2008). Dan berdasarkan hasil penelitian Ridwan Amirudin 2007 dengan bertambahnya usia bayi tejadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali / 77,2 %. Hal ini memberikan adanya hubungan antara pemberian ASI dengan sosial ekonomi ibu dimana ibu yang mempunyai sosial yang rendah mempunyai peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial yang tinggi bertambahnya pendapatan keluarga atau status sosial ekonomi yang tinggi serta lapangan pekerjaan bagi perempuan, berhubungan dengan cepatnya pemberian susu botol artinya mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama (Amirudin, 2007).
Bardasarkan hasil perhitungan data SUSENAS pada tahun 2006 di Propinsi Lampung bayi usia 0-4 bulan yang tidak memberikan ASI secara eksklusif sebesar 44,52 % (Profil Lampung, 2006). Di Kota Metro yang tidak memberikan ASI secara ekslusif pada tahun 2007 sebanyak 52,88%, sedangkan dipuskesmas Iringmulyo ibu-ibu yang tidak memberikan ASI secara ekslusif sebanyak 57,93% (Dinkes Kota Metro, 2007).
Namun yang menjadi masalah adalah, cukupkah dengan RPP ASI? Sedangkan pada faktanya ibu bekerja, cenderung kesulitan memberikan ASI ekslusif ketika lingkungan dan kondisi tidak memungkinkan.
- ejournal.undip.ac.id/index.php/medianers/article/download/734/pdf
- http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_eksklusif
- Depkes RI. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru Dua Persen. Jakarta. 2004
- . http://health.kompas.com/read/2011/03/29/13403792/Rendah.Jumlah.Bayi.yang.Dapat.ASI.Eksklusif
- http://j3ffunk.blogspot.com/2011/08/faktor-faktor-penyebab-rendahnya.html
- http://nasional.kompas.com/read/2009/01/20/10231380/Kandungan.ASI.Lebih.Stabil.ketimbang.Susu.Formula
Sumber: http://halqohaddin.wordpress.com/

0 komentar
Tambahkan Komentar Anda