Komunikasi dengan Anak Usia Dini (Part II)


Bentuk-Bentuk Komunikasi Berdasarkan Cara Pengasuhan Orangtua 

A.Bentuk Komunikasi Otoriter (Memaksakan Kehendak) 

Saat anak usia dini berkomunikasi, berbincang, maupun berdebat dengan kita, sering 
kali seorang anak merasa kesal, marah, dan berakhir dengan keterpaksaan anak menerima 
pendapat kita. Ini disebabkan sering kali anak dianggap sebagai orang yang tak tahu apa-
apa dan harus menurut apa kata dan kehendak kita. Hal tersebutlah yang membuat anak 
enggan berkomunikasi dengan kita, karena sudah dapat diketahui hasil akhirnya: anak harus 
menuruti kehendak ibu dan ayahnya. 

Inilah bentuk komunikasi otoriter yang tidak disukai anak usia dini. Ciri-cirinya saat 
sedang menjalin komunikasi bisa dilihat sebagai berikut : 
  • Lebih banyak bicara daripada mendengar, ini merupakan sifat kebanyakan ibu dan ayah. Kita merasa lebih mengerti dan lebih berpengalaman daripada anak kita. Padahal ini dapat membuat anak putus asa dan enggan menjalin komunikasi yang lebih baik dengan kita. 
  • Cenderung memberi nasihat dan arahan, tanpa memedulikan perbedaan masa lalu kita dengan masa anak. Kita cenderung mengatakan ini boleh atau itu tidak boleh dan mengharuskan anak mematuhi tanpa menjelaskan alasan dan sebab akibat jika mereka melakukannya. Tak jarang kita memberikan alasan yang tidak dipahami anak kita. 
  • Tidak mau mendengar dan memahami dahulu masalah yang dialami anak. Hal ini biasanya lebih dikarenakan keterbatasan waktu yang kita miliki, sehingga kita enggan berlama-lama mendengarkan masalah anak kita. 
  • Tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pendapat. Kita cenderung merasa paling tahu dan paling benar daripada anak. 
  • Selalu menyalahkan anak. Jika anak melakukan kesalahan, kita tidak meminta penjelasan mengapa ia melakukan hal itu dan mengapa ia tidak boleh melakukan hal itu. 
  • Ibu dan ayah yang budiman, itulah gaya komunikasi otoriter atau komunikasi yang memaksakan kehendak pada anak usia dini dan hal ini tidak disukai oleh anak-anak kita. 


B. Bentuk Komunikasi Demokratis (Saling Menghargai) 

Kita harusnya mampu menjadikan saat berkumpul dan berbincang dengan keluarga 
sebagai saat yang berkesan bagi anak, meski itu hanya beberapa menit dalam sehari. Yang 
perlu kita pahami adalah setiap anak memiliki keinginan untuk dihargai dan pendapat yang 
mungkin berbeda. 

Hal-hal yang bisa ibu dan ayah lakukan dalam menciptakan komunikasi yang berkesan dengan 
anak, antara lain : 
  • Anggap anak sebagai teman. Berikan perhatian dan kasih sayang pada saat ia menceritakan kisahnya, berikan tanggapan selayaknya seorang teman dan bukan sebagai orangtua yang mengatur hidup anaknya. 
  • Puji keberhasilan-keberhasilan kecil yang telah dilakukan anak. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan bisa membuat bangga keluarga, juga dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. 
  • Hargai apa yang telah dilakukannya pada kita. Mungkin hanya sekadar perbuatan kecil, seperti mengembalikan mainan pada tempatnya, menata sepatu di raknya, dan sebagainya. 
  • Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, bila perlu kita cari ungkapan yang paling sederhana agar ia dapat menangkap maksud tanpa salah mengartikan perkataan kita. Selain itu, gunakan kata-kata yang menarik saat berbicara dengannya dan sertai dengan canda-canda kecil agar ia tidak merasa tertekan. 
  • Yakinkan pada anak, kita bisa diandalkan. Tentu tidak hanya sebatas kata-kata, melainkan harus diwujudkan dengan perbuatan. Jadilah kita sebagai ibu dan ayah yang dapat diandalkan dan selalu ada di saat-saat ia sedang membutuhkan bimbingan, dorongan atau hanya sekadar pujian. 
  • Ungkapkan dengan perbuatan. Adakalanya komunikasi tidak terjalin melalui kata-kata namun tidak berarti komunikasi tidak terjalin. Untuk menunjukkan kasih sayang bisa diungkapkan melalui sentuhan, memeluk, membelai, menatap dengan lembut ataupun mencium. Hal ini bisa membuat anak merasa disayang dan diperhatikan. 
  • Ibu dan ayah terkasih, bila komunikasi demokratis yang saling menghargai ini dilakukan, anak akan menyukainya dan akan menjadi komunikasi yang berkesan. 

C. Bentuk Komunikasi Permisif (Membiarkan) 

Kita cenderung membiarkan anak, tidak peduli, dan kurang sekali terlibat saat 
berkomunikasi dengan anak. Biasanya kita kurang menggunakan hak kita untuk membuat 
aturan dan cenderung menerapkan hukuman pada anak, namun tidak membimbing dan 
memberikan peran anak dalam keluarga. 

Tips Berkomunikasi dengan Anak 

Ibu dan ayah yang berbahagia, berkomunikasi dengan anak usia dini berbeda dari 
berkomunikasi dengan remaja maupun orang dewasa. Pemikiran anak cenderung lebih 
sederhana, konkret (nyata), penuh khayal, kreatif, ekspresif2, aktif, dan selalu 
berkembang. Untuk itu, ibu dan ayah harus dapat menyesuaikan cara berkomunikasinya 
dengan anak-anak (bukan anak-anak yang harus menyesuaikan dengan ibu dan ayahnya). 
Dalam bahasa lain, kita menerapkan komunikasi demokratis atau yang saling menghargai. 

Untuk membuat anak usia dini merasa nyaman saat berkomunikasi dengan ibu dan 
ayah, upayakanlah menerapkan hal-hal berikut: 
  • Dengarkan apa yang diceritakan ananda dan pancing untuk lebih banyak bercerita. Ia senang sekali menceritakan pengalaman-pengalaman yang baru dilaluinya dan ia akan bersemangat bercerita, jika ibu-ayah mendengarkan dan tertarik dengan apa yang diceritakannya. 
  • Saat ananda sedang menceritakan sesuatu, fokuskan perhatian pada ceritanya. Hentikan sejenak kegiatan yang ibu-ayah lakukan, ajak ia mendekat dan dengarkan dengan saksama. Jika perlu, beri sedikit tanggapan. 
  • Ulangi cerita ananda untuk menyamakan pengertian, karena mungkin bahasa anak berbeda dengan bahasa kita, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami cerita anak. 
  • Bantu ananda mengungkapkan perasaannya dengan bertanya. Jika ananda masih bingung tentang apa yang dirasakannya, apa yang membuatnya sedih atau gembira, maka dengan meminta ia bercerita akan membuatnya merasa diperhatikan. 
  • Bimbing ananda untuk memutuskan sesuatu yang tepat. Jelaskan akibat apa yang akan terjadi jika ia mengambil suatu keputusan, jelaskan sebab dan akibat dari keputusan itu secara sederhana agar mudah dimengerti olehnya. 
  • Emosi ananda yang masih belum stabil membuat ia mudah marah. Tunggu sampai ia tenang, baru dekati dan tanyakan apa yang mengesalkan hatinya. Jangan sampai membuat ananda merasa sedang diabaikan atau tak diacuhkan. 
  • Saat berkomunikasi dengan anak usia dini, ibu dan ayah tak perlu malu, misalnya harus berperan sebagai badut di depan anak, jika dengan cara itu anak akan lebih bisa memahami dan mengerti apa yang ibu-ayah maksudkan. 



0 komentar

Tambahkan Komentar Anda