Komunikasi dengan Anak Usia Dini (Part III)


Komunikasi dengan anak yang dijalin sejak dini dapat memudahkan dalam mendidik 
dan mengarahkan anak usia dini. Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Ibu-Ayah Ketika 
Berkomunikasi dengan Anak 

Hindari dan tidak dilakukan: 
A. 12 gaya berkomunikasi negatif sebagai berikut : 

1. Memerintah                       7. Menyalahkan 

2. Meremehkan                     8. Menasehati 

3. Membandingkan               9. Membohongi 

4. Memberi julukan negatif 10. Menghibur 

5. Mengancam                     11. Mengkritik 

6. Menyindir                          12. Menyelidik 

Bila salah satu gaya itu dilakukan, maka: 
  • Anak usia dini tidak percaya pada perasaannya sendiri.
  • Anak usia dini tidak percaya diri. 

B. Berbicara tergesa-gesa. 
Karena: 
  • Kemampuan anak usia dini menangkap pesan masih terbatas.
  • Tidak memberi kesempatan pada anak usia dini untuk memahami pesan.
Bila hal tersebut dilakukan, maka:
  • Anak usia dini tidak memahami pesan. 
  • Terjadi banyak kesalahan dalam proses pengasuhan, akhirnya ibu-ayah jadi sering marah. 

HAL-HAL YANG BOLEH DILAKUKAN

A. Membaca bahasa isyarat tubuh (perilaku anak). 
Karena: 
  • Bahasa tubuh atau perilaku anak lebih mudah dilihat dan tidak pernah berbohong. 
  • Bahasa tubuh lebih nyata dibandingkan dengan bahasa lisan. 
Bila hal tersebut tidak dilakukan, maka: 
  • Kita tidak akan memahami anak. 
  • Anak usia dini lebih mudah emosi/marah. 

B. Mendengarkan ungkapan perasaan anak. 
Dengan kita mendengarkan ungkapan perasaan anak berarti:
  • Mengurangi emosi anak. 
  • Merangsang kemampuan berbicara. 
Caranya: Kita ikut merasakan kesedihan, kegelisahan, dan kesenangan anak. 

C. Mendengarkan aktif. 
Untuk membangun anak dalam hubungan sosialnya dan kepercayaan dirinya.. 
Caranya: 
  • Dengarkan dengan sungguh-sungguh sepenuh perasaan. 
  • Wajah ibu-ayah menghadap langsung ke wajah anak, dengan pandangan mata sejajar. 
D. Menggunakan pesan sayang. 
Untuk melatih anak memahami perasaan orang lain. 
Caranya: Ungkapkan perasaan sayang (positif) ibu-ayah kepada anak. Contoh, ”Ibu khawatir kalau kamu berlari-larian seperti itu, nanti kamu bisa terjatuh, Nak.” Atau, “Ayah sayang kamu, 
Nak. Karena itu Ayah sedih kalau kamu suka memukul temanmu.” 

E. Menggunakan kata motivasi 

Gunakan kata ”ayo”, ”coba”, ”mari”, ”silakan” untuk menggantikan kata ”jangan” dan ”tidak”. 
Catatlah berapa kali dalam sehari ibu dan ayah menggunakan kata ”tidak”, ”sudah”, 
”berhenti”, ”jangan”, ”tunggu”, ”ayah/ibu bilang apa”. Gantilah kata-kata tersebut dengan 
kata-kata positif dalam komunikasi: 
1. Untuk memberikan motivasi dan dukungan, kata ”ayo”, ”coba”, ”mari”, ”silakan” dapat 
membantu anak usia dini mencoba melakukan. Sedangkan kata ”jangan” dan ”tidak boleh” 
kadang malah dapat mendorong anak melakukan perlawanan, penolakan atau ingin mencoba. 
Contoh kalimat larangan, ”Jangan naik pohon, nanti jatuh!” 
Dapat diganti dengan kalimat ajakan, “Ayo, kita bermain di bawah pohon saja, pasti lebih 
menyenangkan.” 

2. Untuk menggantikan kalimat larangan harus diberikan pilihan yang dapat dipilih anak. 
Misalnya, seorang anak bernama Ade, meloncat-loncat di atas kursi, maka kalimat yang kita 
gunakan, misalnya, “Ade boleh duduk di atas kursi atau boleh meloncat di atas karpet ini.” 

F. Menggunakan kalimat dan kata-kata positif. 
Mengajak dengan menggunakan kalimat positif dan melarang dengan alasan yang bisa 
dipahami anak. 
Contoh: 
1. Anak mau naik pohon yang basah karena hujan. 
Kalimat yang biasa digunakan adalah, ”Kamu jangan naik pohon, nanti jatuh.” 
Sebaiknya ganti dengan kalimat, ”Nak, coba lihat, pohon ini licin karena hujan semalam, 
kamu bisa terpeleset dan jatuh kalau naik pohon ini.” Atau, ”Pohon ini licin karena hujan 
semalam, kamu bisa terpeleset dan jatuh kalau memanjatnya, jadi sebaiknya kamu tidak 
naik pohon ini.” 

2. Anak berjalan dengan menyeret selimutnya. 
Kalimat yang biasa digunakan, ”Selimutnya jangan diseret-seret begitu, nanti jadi kotor.” 
Gantilah dengan kalimat positif berikut, ”Maaf, Nak, selimutnya sebaiknya tidak diseret-
seret begitu, nanti jadi kotor.” Atau, ”Maaf, Nak, angkat selimutnya supaya tetap bersih.” 

  • G. Membiasakan mengucapkan kata “terima kasih”, “permisi”, ”maaf” dan ”minta tolong” pada anak sesuai dengan kejadiannya. 
Contoh: 
  • “Terima kasih ya, Nak, Bunda dibantu merapikan mainan.” 
  • “Permisi ya, Nak, Ibu ke dapur sebentar.” 
  • “Maaf, Nak, kita bermainnya sudah cukup dulu, sekarang waktunya mandi.” 
  • “Nah, Ayah minta tolong, sampahnya dibuang di tempat sampah, ya.” 

H. Mengembangkan pertanyaan terbuka. 
Untuk melatih berpikir kritis dan kecerdasan anak usia dini. 
Caranya: 
1. Ajari anak membedakan perbuatan baik dan buruk. 
Contoh, ketika anak menonton film kartun Tom and Jerry, tanyakan kepadanya, ”Nak, 
menurutmu, perbuatan Tom dan Jerry yang selalu berkelahi itu, baik apa tidak ya? 
Sebaiknya bagaimana, ya?” 

2. Ajari anak membedakan benar dan salah. 
Contoh, ”Nak, sebaiknya kita membuang sampah di mana, ya?” 

I. Menggunakan kata-kata yang benar. 
Untuk melatih anak memiliki pengetahuan tentang tata bahasa yang benar, kita tidak 
dibenarkan mengikuti atau menirukan kata-kata anak yang masih belum jelas, atau 
pemenggalan kata yang tidak utuh. Contoh: kata ”mam-mam” untuk ”makan”, ”embin” atau 
”obin” untuk ”mobil”, dan sebagainya. 

Jadi, kita harus mengucapkan kata dengan istilah yang sebenarnya dan jelas. Contoh, kita 
mau meminta anak usia dini menirukan kata ”makan”. Jangan katakan, ”Nak, agar kamu jadi 
kuat dan sehat, kamu harus ma....” (mengharap anak melanjutnya dengan suku kata ”kan”). 
Seharusnya kita mengatakan, ”Nak, agar kamu jadi kuat dan sehat, kamu harus makan. 
Harus apa, Nak?”, dengan harapan anak akan mengatakan ”makan”. Jadi, gunakan kata yang 
utuh. 

J. Memberikan contoh perbuatan dari orangtua. 
Apa yang dilihat anak akan dilakukan, karena anak lebih percaya pada apa yang dilihat 
daripada didengar. Jadi, sebaiknya ibu dan ayah memberikan contoh perbuatan secara 
langsung pada anak. 
Antara lain: 
  • Pembiasaan menggosok gigi saat anak telah tumbuh giginya. Ibu dan ayah menggosok gigi di dekat anak, anak diberikan sikat gigi yang sesuai dan dapat memotivasinya untuk mencoba, semisal sikat gigi dengan bentuk dan gambar-gambar lucu. 
  • Pembiasaan membuang sampah di tempat sampah. Ibu dan ayah menunjukkan sambil berkata, ”Kalau membuang sampah harus di tempat sampah.” 
  • Pembiasaan merapikan mainan. Ibu dan ayah memberikan contoh merapikan mainan, lalu anak diminta melanjutkan sampai tuntas. Atau, ibu-ayah mengajak dan anak merapikan mainan bersama-sama, ”Nak, ayo kita simpan kembali mobil-mobilan ini di kotak mainannya.” 
  • Pembiasaan membaca. Ibu dan ayah seringlah membaca buku, majalah, atau koran di dekat anak. Sediakan buku cerita bergambar yang sesuai dengan usia anak untuk merangsang anak tertarik dengan buku dan akhirnya jadi gemar membaca. 

0 komentar

Tambahkan Komentar Anda